Jumat, 13 September 2013

data


PERMOHONAN
PENDANAAN ( INVESTASI )
Dari
CV.............................

















 


































...............................
Jln. Raya no. 7 Jatiroto
Lumajang – Jawa Timur
Kode Pos 67355
   Phone 0334 - 321168
   Fax      0334 – 322168
   HP       0811358644











Kata Pengantar


Mengantisipasi adanya krisis energy, khususnya BBM ( Bahan Bakar Minyak ). Perlu dilakukan diverifikasi energi. Salah satunya adalah penggunaan energy dari BIO MASA. Dalam hal ini adalah Limbah Kayu ( WOOD WASTE ) yang di cacah atau di proses dengan alat pencacah ( WOOD CHIPPER ), yang mana Limbah Kayu dapat berupa Akar, Ranting, Limbah dari Industri Kayu ( WOOD WORKING ) menjadi potongan cacahan supaya layak menjadi Bahan Bakar Alternatif pada boiler suatu Industri. Utamanya Pabrik Gula yang ada di wilayah Jawa Timur.
Pabrik Gula yang ada di Jawa Bahan Baku utamanya adalah tebu. Dimana tebu di giling menghasilkan NIRA dan Ampas, dengan Total Moisture ( TM ) berkisar 48 – 50 %, yang mana ampas tersebut di bakar pada Boiler sebagai Bahan Bakarnya. Namun sejak awal tahun 2000 sampai saat ini dengan adanya perubahan cuaca dan juga perubahan  jenis bibit tanaman tebu yang memacu pada Rendemen Kristal Gula. Ampas yang dihasilkan tidak lagi mencakupi sebagai bahan bakarnya, sehingga Banyak sekali membutuhkan suplesi bahan bakar alternatif lainnya. Seperti yang pernah kami coba dan lakukan sebelumnya. Yaitu mulai dari Daduk ( Daun Tebu ) yang dicacah, sekam padi, Batang jagung dan lainnya sampai akhirnya menggunakan cacahan kayu. Yang mana Banyak tersedia limbah kayu di wilayah kami yaitu kabupaten. Lumajang, Jember dan Probolinggo.
Dalam operasionalnya, Pabrik Gula beroprasi selama ± 180 hari, yaitu pada waktu kemarau, karena pada saat itu tanaman tebu mencapai Rendemen puncak. Sedang pada waktu penghujan yaitu ± 180 hari yang lain di pergunakan untuk perbaikan.
Untuk itu kami sangat membutuhkan PENDANAAN ( INVESTASI ) untuk menampung Limbah Kayu pada saat Pabrik Gula tidak beroperasi.
Demikian yang kami sampaikan ini, dan kami sangat berharap atas kerja samanya. Dan kepada semua pihak yang membantu, kami sampaikan terima kasih.













BAB I
PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang
Kebutuhan akan Bahan Bakar Alternatif pada Pabrik Gula yang ada di Jawa semakin meningkat. Dimana seandainya ampas tebu tersebut  tidak di manfaatkan untuk pembakaran suatu boiler di Pabrik Gula, maka pihak PT Kertas Leces sangat membutuhkan sebagai Bahan Baku Pulp Kertas yang nilai ekonomisnya jauh lebih tinggi di banding Bahan Bakar  Alternatif berupa cacahan kayu.
Untuk Pabrik Gula Djatiroto saja, dengan kapasitas Giling 6000 TCD. Menghasilkan ampas 1.260 ton / per hari, dan itu habis di bakar dan masih membutuhkan suplesi sekitas 400 Ton / per hari. Belum Pabrik Gula lainnya yang ada di Jawa Timur, yang kurang lebih 35 Pabrik Gula.
Dengan Banyaknya jumlah kebutuhan akan Bahan Bakar Alternatif, pada waktu musim giling (± 180 Hari), di dukung dengan ketersediaan limbah kayu Industri yang beroperasi sepanjang tahun maka proses pencacahan kayu sebagai Bahan Bakar Alternatif sangat membutuhkan Tempat pengggudangan penambahan mesin giling, dan pendanaan opersional, sebagai persediaan stok untuk kebutuhan Giling di Pabrik Gula.
Untuk kebutuhan Bahan Bakar Alternatif  dalam musim giling tidak ada batasan jumlah, karena kebutuhannya sangat besar. Juga di dukung tempat kami yaitu di kabupaten Lumajang yang bisa menjangkau kirimannya ke Pabrik Gula lainnya seperti, PG. Djatiroto, PG. Semboro, PG. Wonolangan, PG. Gending, PG. Pajarakan, PG. Kedawung, PG. Asembagus , dan Lainnya di Wilayah Jawa Timur yang jarak kirimnya sekitar paling jauh 150 Km

1.2.Tujuan dan Manfaat
Ø  Tujuan yang ingin di capai adalah
-        Mengurangi konsumsi BBM khususnya Minyak Bakar ( MFO ).
-        Menjadikan Limbah Kayu Lebih berguna sebagai Bahan Bakar Alternatif.
-        Menampung sepanjang tahun hasil limbah dari suatu Industri  Kayu (WOOD WORKING)
-        Meningkatkan nilai jual dari limbah menjadi Bahan Bakar Alternatif.

Ø  Manfaat
-        Pemanfaatan limbah yang berasal dari kebun seperti akar, ranting, kulitan kayu.
-        Penghemataan BBM MFO dari sejumlah kalori yang di bakar pada Boiler.
-        Terciptanya lapangan kerja Baru bagi masyarakat sekitar mulai dari tenaga pengumpul, transportasi angkutan dan tenaga penggiling.










































BAB II
Cacahan Limbah Kayu ( WOOD WASTE )
Sebagai Campuran Bahan Bakar Boiler


2.1.Pengelolaan Cacahan Limbah Kayu
2.1.1.    Pengadaan Limbah Kayu
Di Jawa Timur terdapat 838 Industri kayu Primer yang terdiri atas perusahaan penggergaji dan pengelolaan kayu Industri kayu lapis ( FJB ) yang mengolah Bahan Baku. Kayu Industri menjadi papan tersambung untuk pallet dan floring.
Persediaan hutan tanaman Industri Rakyat maupun tanaman Perkebunan Khususnya PT. Perkebunan Nusantara  XII ( Persero ) yang ada di Jawa Timur banyak membudidayakan tanaman Sengon Albasia. Yang usianya 5-7 tahun. Sudah mencapai diameter 25-30 cm.
Untuk jenis kayu sengon albasia saja potensi yang ada di Jawa Timur kurang lebih 500.000m3 Per Tahun ( Menurut data dari dinas Perkebunan). Dengan Potensi tersebut 25%nya Berupa kayu limbah yang ada pada suatu Industri kayu sedangkan 20 % limbah lainnya ada di kebun Berupa akar. Jadi Potensi limbah yang ada ± 45% x 500.000 m3 = 225.000 m3/ Pertahun atau setara dengan 56.250 ton / tahun.
Khusus PT. Perkebunan Nusantara XII ( Persero ) dan Perkebunan Swasta Lainnya (Aneka Tanaman) banyak tanaman berupa Karet, Pinus, Cacao ( Coklat ), Kopi, Jeruk, dan Lainnya yang setiap tahunnya melakukan penebangan kayu untuk peremajaan tanaman. Dalam hal ini potensi kayu limbah sangat besar.
   
2.1.2.    Pencemaran Kayu
Pencacahan limbah kayu (WOOD WASTE) di lakukan dengan tujuan menghancurkan kayu sedemikian rupa ( dengan di mensi ukuran ± 2 x 8 x 20 mm ) agar bisa di hancurkan dengan conveyor dan masuk pada ruang Bakar Boiler sehingga menghasilkan energi.
Mesin cacahan kayu ( WOOD CHIPPER ) dapat di beli melalui pabrikan atau pembuatan sendiri ( Custom ) pada suatu Industri perakitan mesin. Yang di gerakkan oleh mesin Diesel 190 Ps.




2.1.3.    Penyimpanan dan Penggudangan
Sementara ini semenjak tahun 2005 kami tidak mempunyai tempat penyimpanan dan penggudangan sarana tersebut sebenarnya sangat di butuhkan karena bisa bekerja pada waktu luar musim giling. Sehingga hasil cacahan kayu selama ± 180 hari di cacah dan di simpan dalam gudang yang beratap. Jadi cacahan kayu tidak membusuk ( Rusak ) terkena hujan. Dengan tidak memiliki gudang tersebut maka kami praktis pada luar musim giling juga menghentikan proses cacah kayu. Yang  mana potensi limbah kayu sangat banyak.  Karena suatu industri kayu beroperasi sepanjang tahun.
Dengan melakukan penggudangan yang baik maka cacahan kayu akan tambah kering dan harga jualnya semakin baik. Karena kalori bakarnya juga tinggi.

2.2.Nilai Jual Berdasarkan kalori
2.2.1. Nilai kalori berbagai cacahan kayu pada beberapa kali penelitian di laboratorium berkisar antara 4200 sampai 4720 k.cal/kg. Sedangkan BBM atau MFO nilai kalorinya berkisar antara 6000 sampai 9000 k.cal/kg. Berarti nilai  kalori cacahan kayu ± 50% dari BBM atau MFO.*

2.2.2. Nilai ekonomi cacahan kayu dibanding BBM (MFO)
Nilai ekonomis cacahan kayu dibanding BBM (MFO) pada kalori yang sama sebagai berikut, pada tahun 2009.
                        Harga BBM ( MFO )              = Rp. 5.300,-/ Ltr
                        BJ MFO                                  = 0,92
                        Harga per Kg                          = Rp 5.300 : 0,92 / Kg
                                                                        = Rp 5761 / Kg

URAIAN
BBM (MFO)
CACAHAN KAYU
Harga Per Kg
Nilai Kalori
Harga Per k.cal
Perbandingan
Nilai ekonomis
Rp. 5.761,-
9000 k.cal/kg
Rp 0.640
7,2
100 %
Rp 400,-
4500 k.cal/kg*
Rp 0.089,-
1
14 %
NILAI EKONOMIS PADA KALORI YANG SAMA SEBESAR 14 %
Keterangan :
 *)           Hasil Uji Kalori dari Sucofindo ( Terlampir )
 






































2.3.Dampak Penggunaan Cacahan Limbah Kayu
2.3.1.    Efek sinergis penggunaan cacahan limbah kayu.
Efek sinergis penggunaan cacahan limbah kayu sebagai bahan bakar alternatif pada boiler suatu industri utamanya Pabrik Gula di wilayah Jawa Timur, yang mana penggunaanya bercampur dengan ampas tebu dari hasil proses gilingan tebu akan sangat mengurangi penggunaan BBM (MFO).
Selama ini industri Pabrik Gula memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan bakar utamanya, jika terjadi kekurangan ampas tebu maka alternatifnya adalah bahan bakaar minyak (BBM/MFO). Melihat fenomena – fenomena harga BBM, ketersediaan cadangan energi nasional serta kebijakan pemerintah tentang diverifikasi dan efisiensi bahan bakar minyak, maka dengan ini kami mengadakan suatu terobosan teknologi terbarukan dengan memanfaatkaan sumber daya yang ada dan murah yaitu cacahan limbah kayu (WOOD WASTE).
Terciptanya lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar seperti pemulung kayu, transportasi, dll.




























BAB III
PENDANAAN (INVESTASI)



Ø  Modal Sendiri ( Berdasarkan Kepemilikan ( Terlampir ))

NO
Satuan
Uraian
Harga Satuan
Jumlah
1
29.860m2
Tanah Pekarangan
@ Rp 250.000,-/m2
Rp 7.465.000.000,-
2
1 Unit
Kantor Type 70
@ Rp 105.000.000,-
Rp    105.000.000,-
3
2 Unit
Rumah Karyawan
Type 45
@ Rp 45.000.000,-
Rp      90.000.000,-
4
1 Unit
Jembatan Timbang Kapasitas  60 Ton
@ Rp 125.000.000,-
Rp    125.000.000,-
5
2 Unit
WOOD CHIPPER (Mesin Giling Kayu)
@ Rp 250.000.000,-
Rp    500.000.000,-
6
1 Unit
Wheel Loader Komatsu WA 180 Thn. 2005
@ Rp 650.000.000,-
Rp    650.000.000,-
7
1 Unit
ISUZU Panter LS Thn.2007
@ Rp 190.000.000,-
Rp    190.000.000,-
8
1 Unit
ISUZU Panter Pick Up Thn. 2002
@ Rp 80.000.000,-
Rp      80.000.000,-
9
1 Unit
Truk Fuso Thn. 84
@ Rp 80.000.000,-
Rp      80.000.000,-
10
3 Unit
Truk Colt Diesel
Thn.1996, 1997, 1998
@ Rp 80.000.000,-
Rp    240.000.000,-
11
Modal KMK dari BRI cab. Lumajang
Rp 1.750.000.000,-
12
Modal Sendiri
Rp    725.000.000,-
Jumlah
Rp 12.000.000.000,-





















BAB IV
Kebutuhan Tambahan Dana


Ø  Kebutuhan Tambahan Dana Invesatsi
NO
Satuan
Uraian
Harga Satuan
Jumlah
1
12.225 m3
Pengurukan dan pengerasan Lahan = 24.450 m2 x 0,50 mtr
@ Rp 100.000,-
Rp   1.222.500.000,-
2
4.890 m3
Pengecoran Rabat untuk Lantai =24.450 m2 x 0,2 mtr
@ Rp 650.000,-
Rp   3.178.500.000,-
3
800 m1
Pembuatan Pagar Setinggi 3 mtr
@ Rp 1.006.250,-
Rp     805.000.000,-
4
600 m1
Pembuatan saluran air
@ Rp 490.000,-
Rp     294.000.000,-
5
10.000 m2
Pembuatan Atap Rangka Besi tinggi 6 mtr
@ Rp 750.000,-
Rp   7.500.000.000,-
6
4 unit
WOOD CHIPPER (Mesin Giling Kayu)
@ Rp 250.000.000,-
Rp   1.000.000.000,-
SUB JUMLAH
Rp 14.000.000.000,-

Ø  Kebutuhan Tambahan Modal Kerja
NO
Uraian
Jumlah
1
Untuk Pembelian Bahan Baku Kayu Selama 180 Hari


Pemasukan Per Hari                                       200 ton


Harga                                             Rp 200.000,- / ton


Produksi selama 180 hari x 200 ton x Rp 200.000,-
Rp 7.200.000.000,-
2
Biaya Produksi Meliputi


Biaya Bahan Bakar
 Rp 15.000,-/ton


Upah Giling
 Rp 15.000,-/ton


Maintenance
 Rp 10.000,-/ton


Biaya Karyawan dan Kantor
 Rp 10.000,-/ton



 Rp 50.000,-/ton


Produksi selama 180 hari x 200 ton x Rp 50.000,-
Rp  1.800.000.000
SUB JUMLAH
Rp  9.000.000.000
JUMLAH KEBUTUHAN TAMBAHAN DANA INVESTASI
Rp 23.000.000.000


BAB V
Perkiraan Produksi Dan Rugi Laba


Ø  Hasil Produksi Cacahan

NO
Uraian
Jumlah
1
Produksi Luar Masa Giling / stok Barang
180 hari x 200 ton
36.000 ton
2
Produksi dalam masa giling
180 hari x 100 ton*
18.000 ton
JUMLAH PRODUKSI
54.000 ton


Ø  Perhitungan Rugi Laba Pertahun

NO
Uraian
DEBIT
KREDIT
1
Hasil Produksi
54.000 ton x Rp 250.000,-
-
Rp 13.500.000.000,-
2
Biaya Asuransi kebakaran
-
Rp       15.000.000,-
3
Kayu FOT Truk
54.000 ton x Rp 320.000,-
Rp 17.280.000.000,-
-
4
Rugi Laba
-
Rp   3.765.000.000,-
JUMLAH
Rp 17.280.000.000,-
Rp 17.280.000.000,-



Keterangan :
*)            Dalam musim giling (pada musim kemarau) seluruh pelaku usaha beraktifitas seperti pembakaran gamping, genting, batu bata, dll. Sehingga perolehan kayu limbah menurun tinggal 50 %























Ø Kata Pengantar
Ø BAB I         - Pendahuluan
Ø BAB II       - Cacahan Limbah Kayu ( Wood Waste )
- Analisa Uji Kalori Sucofindo
Ø BAB III      - Pendanaan ( Modal Sendiri )
- Copy Kepemilikan Terlampir
Ø BAB IV      - Kebutuhan Tambahan Dana
- Dana Investasi Gudang
- Modal Kerja
Ø BAB V       - Perkiraan Produksi dan Rugi Laba
- Foto Aktivitas Cacahan Kayu
























 
















































Ø Akte Pendirian Perusahaan
Ø Akte Perubahan Pendirian
Ø Tanda Daftar Perusahaan ( TDP )
Ø Surat Ijin Tempat Usaha ( SITU )
Ø Surat Ijin Usaha Perdagangan ( SIUP )
Ø Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi ( SIUJK )
Ø Nomor Pokok Wajib Pajak ( NPWP )
Ø Pengusaha Kena Pajak ( PKP )
Ø Keanggotaan Kamar Dagang dan Industri ( KADIN )









Ø Gambar Ukur Menurut Badan Pertanahan Nasional ( BPN )
Ø Gambar Ukur Menurut GPS
Ø Gambar Letak Situasi
Ø Foto Copy Sertifikat dan Akta Jual Beli (Bukti Kepemilikan)
Ø Foto Copy Factur Wheel Loader
Ø Foto Copy BPKB









 


















 




















Ø Foto Copy Sebagian Pengalaman Kerja Dengan :
-       PG. Gending
-       PG. Djatiroto
-       PG. Kanigoro
-       PG. Semboro
-       PG. Cinta Manis – Palembang
-       PT. Kertas Leces - Probolinggo












                                                                   






Ø  Tabel Angsuran Pinjaman



Akhir Tahun Ke
Pokok Pinjaman
Cicilan
Pokok Pinjaman
Bunga Pinjaman
Angsuran Per Tahun
Sisa Pokok Pinjaman
1
Rp 23.000.000.000,00
-
-
-
Rp 23.000.000.000,00
2
Rp 23.000.000.000,00
Rp 1.642.857.142,86
Rp 1.610.000.000,00
Rp 3.252.857.142,86
Rp 21.357.142.857,14
3
Rp 21.357.142.857,14
Rp 1.642.857.142,86
Rp 1.495.000.000,00
Rp 3.137.857.142,86
Rp 19.714.285.714,29
4
Rp 19.714.285.714,29
Rp 1.642.857.142,86
Rp 1.380.000.000,00
Rp 3.022.857.142,86
Rp 18.071.428.571,43
5
Rp 18.071.428.571,43
Rp 1.642.857.142,86
Rp 1.265.000.000,00
Rp 2.907.857.142,86
Rp 16.428.571.428,57
6
Rp 16.428.571.428,57
Rp 1.642.857.142,86
Rp 1.150.000.000,00
Rp 2.792.857.142,86
Rp 14.785.714.285,71
7
Rp 14.785.714.285,71
Rp 1.642.857.142,86
Rp 1.035.000.000,00
Rp 2.677.857.142,86
Rp 13.142.857.142,86
8
Rp 13.142.857.142,86
Rp 1.642.857.142,86
Rp 920.000.000,00
Rp 2.562.857.142,86
Rp 11.500.000.000,00
9
Rp 11.500.000.000,00
Rp 1.642.857.142,86
Rp 805.000.000,00
Rp 2.447.857.142,86
Rp 9.857.142.857,14
10
Rp 9.857.142.857,14
Rp 1.642.857.142,86
Rp 690.000.000,00
Rp 2.332.857.142,86
Rp 8.214.285.714,29
11
Rp 8.214.285.714,29
Rp 1.642.857.142,86
Rp 575.000.000,00
Rp 2.217.857.142,86
Rp 6.571.428.571,43
12
Rp 6.571.428.571,43
Rp 1.642.857.142,86
Rp 460.000.000,00
Rp 2.102.857.142,86
Rp 4.928.571.428,57
13
Rp 4.928.571.428,57
Rp 1.642.857.142,86
Rp 345.000.000,00
Rp 1.987.857.142,86
Rp 3.285.714.285,71
14
Rp 3.285.714.285,71
Rp 1.642.857.142,86
Rp 230.000.000,00
Rp 1.872.857.142,86
Rp 1.642.857.142,86
15
Rp 1.642.857.142,86
Rp 1.642.857.142,86
Rp 115.000.000,00
Rp 1.757.857.142,86
Rp 0,00


Rp 23.000.000.000,00
Rp 12.075.000.000,00
Rp 35.075.000.000,00



Tidak ada komentar:

Posting Komentar